Arti Penyembah-Penyembah yang Benar di Dalam Yohanes 4:24

Disadur dari Buku “Orthodox Menjawab (Jawaban Pertanyaan-Pertanyaan Praktis Tentang Iman Kristen Orthodox).

Oleh : Archimandrite Romo Daniel Bambang Byantoro Ph.D.

Pertanyaan:

Bagaimana pandangan Gereja Orthodox mengenai ajaran yang mengatakan bahwa “Menyembah dalam Roh dan Kebenaran” (Yohanes 4:24) itu perwujudannya adalah dengan Bahasa Roh, sehingga Bahasa Roh adalah keharusan dalam setiap penyembahan?

.

Jawaban:

               Kalau kita lihat sekarang ini banyak orang yang mengambil ayat dari Yohanes 4:24 untuk mendukung keyakinan bahwa orang harus berbahasa lidah agar dapat menjadi penyembah yang benar dan tentu saja orang akan menunjukkan I Korintus 14:15 guna membuktikan bahwa menyembah dalam Roh itu adalah bahasa lidah. Memang I Korintus 14:15 itu tidak salah, yang salah adalah cara penerapan ayat tersebut pada pembicaraan Yohanes yang sama sekali tidak berkaitan dengan pembicaraan mengenai bahasa lidah.

Di sinilah salah satu penyebab timbulnya macam-macam pengajaran dalam aliran denominasi karena mereka melepaskan ayat-ayat keluar dari kaitannya dan menggabungkan dengan ayat-ayat yang lain. Dengan cara yang demikian kita dapat membuat pengajaran apa saja yang kita suka dan membentuk sistem melalui dukungan ayat-ayat Alkitab yang sudah dilepaskan dari kaitannya itu.

Namun apakah dengan cara itu kita dapat bertemu dengan kebenaran Injil seperti yang diajarkan para Rasul dan diwariskan kepada Gereja yang didirikannya itu, serta dibela oleh para Bapa Gereja yang diteruskan oleh para Episkop sampai sekarang ini? Tentu saja tidak. Kita hanya akan menemukan hasil olah pikiran manusia yang dipaksakan ke dalam Alkitab supaya berbicara seperti yang dia mau. Oleh karena itu tidak semua orang yang dapat menghafal Alkitab dan menghaburkan ayat-ayat Alkitab pada setiap pembicaraannya itu yang dapat mengajarkan kebenaran, karena Alkitab itu mempunyai kaitan yang sangat erat dengan situasi pada waktu mana itu dituliskan dan dalam kaitan apa hal itu dituliskan.

Gereja Orthodox dalam hal ini sangat berhati-hati terhadap segala macam tafsiran yang secara gegabah dilakukan oleh para kaum Heterodox. Namun di samping itu bersyukur pula karena Gereja Orthodoxlah yang sebenarnya menetapkan Perjanjian Baru menjadi apa adanya sekarang ini dengan 27 buah buku sebagai kanon (tolok ukur). Penetapan ini terjadi pada abad ke-3.

Di samping itu  di dalam simpanan Gereja Orthodox terdapat banyak sekali tulisan-tulisan para Bapa Gereja yang menjelaskan arti Alkitab itu tanpa menyimpang dari Adat istiadat Suci para Rasul, sehingga kebenaran Injil tetap terpelihara sebagaimana aslinya. Kalau begitu bagaimanakah kita harus menafsirkan Alkitab supaya tidak sampai jatuh ke dalam penafsiran yang bukan-bukan?

Ada beberapa cara yang dapat diterapkan untuk menghindari penafsiran yang aneh-aneh:

1.            Ketahuilah jenis sastra dari pasal atau bagian Alkitab yang sedang Anda baca. Kalau itu puisi atau syair, misalnya Mazmur, bacalah dan mengertilah itu sebagaimana mestinya dengan mengerti syarat-syarat dan cara penulisan suatu syair. Kalau itu perumpamaan, bacalah sebagai perumpamaan, kalau itu surat, bacalah sebagai surat dan seterusnya.

2.            Ketahuilah pokok pembicaraan dalam bagian Alkitab yang Anda baca. Misalnya dalam Yohanes 4, pokok pembicaraannya adalah mengenai Yesus dengan wanita Samaria yang berlanjut dengan pembicaraan mengenai Air Yang Hidup.

3.            Ketahuilah jalan cerita atau jalan pemikiran bagian Alkitab yang sedang Anda baca itu. Misalnya dalam I Korintus 1, di situ Rasul Paulus pertama memberi salam, berlanjut dengan memberi ucapan syukur serta mulai membicarakan maksud penulisan suratnya yaitu karena adanya perpecahan dalam Gereja Korintus, serta dilanjutkan membicarakan mengenai hikmat Allah dan hikmat manusia.

4.            Ketahuilah siapa peran utama dalam pembicaraan pasal tersebut, atau ketahui siapa yang berbicara dan ditujukan kepada siapa pembicaraannya itu. Misalnya, dalam I Korintus tadi yang berbicara adalah rasul Paulus, yang sedang diajak bicara adalah orang-orang Korintus.

5.            Ketahuilah dalam kaitan yang bagaimana seorang penulis Alkitab berbicara seperti yang tertulis di situ. Di sini kita perlu mengetahui latar belakang sejarah dan budaya serta politik pada waktu itu.

6.            Ketahuilah kaitan pasal dengan pasal-pasal sebelumnya. Jadi jangan mengambil satu ayat atau satu ungkapan dalam ayat itu lalu ditafsirkan lepas dari kaitannya dengan keseluruhan pasal ataupun dengan pasal sebelum dan sesudahnya, serta kaitannya dengan maksud penulisan buku itu sendiri. Umpamanya: Jangan lalu mengambil kata-kata menyembah dalam Roh dan kebenaran dari Yohanes 4:24 lalu ditafsirkan sendiri dengan tunjangan ayat-ayat dari buku atau surat lain dalam Alkitab. Lebih dahulukan apa maksud ungkapan tersebut di dalam kaitannya dengan pasal empat Injil Yohanes itu sendiri dulu.

7.            Ketahuilah maksud dan tujuan penulisan serta dalam situasi yang bagaimana suatu buku atau surat dituliskan. Umpamanya Injil Yohanes memberikan tujuan penulisannya dalam Yohanes 20:31, dan selalu ingat di dalam tiap penafsiran suatu ayat akan tujuan utama dari penulisan itu secara keseluruhan.

8.            Ketahuilah gaya bahasa dan tata bahasa yang digunakan oleh masing-masing penulis Alkitab, dan kata-kata apa saja yang sering digunakan oleh setiap penulis Alkitab serta apa yang dimaksud dengan kata-kata tersebut. Umpamanya: Injil Yohanes banyak menggunakan kata-kata gelap dan terang, hidup dan kasih. Paulus dalam surat-suratnya banyak menggunakan kata-kata iman, rahmat, penebusan, pembenaran, dan lain-lain.

9.            Bandingkan hasil penafsiran tersebut dengan tulisan-tulisan Bapa Gereja dan pengajaran Greja yang sudah beribu tahun, karena Gereja itu adalah “tiang penopang dan dasar kebenaran” ( I Timotius 3:15)

10.         Terakhir, sebelum menafsirkan apa-apa, jangan mempunyai sesuatu pendapat mengenai arti ayat itu sebelumnya, namun dengan pikiran terbuka mendekati ayat-ayat tersebut, sedia untuk dikoreksi oleh ayat tersebut jika pendapat Anda yang sebelumnya bertentangan dengan apa yang ada dalam nats yang sedang Anda baca itu. Jadi jangan membaca suatu nats dengan pendapat dan penafsiran yang sudah ada sebelumnya. Karena dengan demikian berarti Anda tidak menggali berita dari dalam Alkitab, tetapi Anda memasukkan suatu berita ke dalam Alkitab. Alkitab Anda paksa untuk berbicara menurut apa yang  sudah Anda mengerti. Umpamanya: Karena I Korintus 14:15 mengatakan bahwa berbicara dalam bahasa lidah itu adalah berdoa dalam Roh, maka pasti Yohanes 4:24 yang berbicara mengenai menyembah dalam Roh itu berarti berbahasa lidah. Tafsiran demikian ini adalah tafsiran murahan.

11.         Last but not least (terakhir namun bukan yang tak penting), karena Alkitab itu merupakan tulisan yang berbeda dengan tulisan-tulisan yang lain meskipun ditulis manusia, karena itu merupakan ilham Roh Kudus, maka sebelum membaca Alkitab, pertama sikap Anda harus hormat terhadap Alkitab. Hati Anda terbuka untuk menerima berita dari Allah, serta mohon Roh Kudus sendiri mengilhami maksud berita yang Ia ilhamkan kepada penulis-penulis Alkitab pada zaman dulu, dan mohonlah didoakan oleh para penulis Alkitab itu sendiri apa yang mereka maksud dalam penulisan mereka tersebut. Misalnya: Kalau yang hendak dibaca tulisan Rasul Paulus, berdoalah supaya Rasul Paulus mendoakan Anda di hadapan Allah supaya Anda dapat mengerti apa yang dia maksud. Hal ini sering dilakukan oleh Bapa Gereja Yohanes Khrisostomos. Setiap kali dia belajar tulisan-tulisan Rasul Paulus, dia meletakkan Ikon (Gambar) Suci Rasul Paulus di hadapannya dan minta supaya Rasul Paulus sendiri mendoakan kepada Allah supaya Bapa Yohanes Khrisostomos mengerti apa yang dimaksud oleh Rasul Paulus itu.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Shopping cart

0

No products in the cart.

0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x